AspirasiInspirasiPenggusuran RumahSosialitaWoja

Semacam Tragedi, Masih Menyayat Hati, Kisah Sepekan Pasca Larema Dieksekusi

Saturday, October 9, 2021, October 09, 2021 WAT
Last Updated 2021-10-09T13:57:44Z
Semacam Tragedi, Masih Menyayat Hati, Kisah Sepekan Pasca Larema Dieksekusi



Dompu, Dompu Siar - Tujuh, delapan, hingga sembilan, Oktober, satu minggu pasca penggusuran 14 unit rumah di Lingkungan Larema, Kelurahan Simpasai, duka dan trauma masih menyelimuti 52 jiwa Kepala Keluarga (KK) di atas lahan sengketa seluas 32 are itu.


Semacam Tragedi, Masih Menyayat Hati, Kisah Sepekan Pasca Larema Dieksekusi


Meski demikian, dalam bayang-bayang kehilangan tempat tinggal. Hidup harus terus mereka lanjutkan. Amukan escavator tanpa rasa iba pada (30/9) merobohkan setiap jengkal tembok rumah. 


Hanya menyisihkan sedikit pakaian dan raga yang pasrah. Tapi mimpi dan cita-cita masih terus mereka rangkai, sekalipun dalam pengapnya tenda pengungsian saat ini. 


Potret Anak Larema, Pasca Dieksekusi


Semangat untuk bangkit itu terlihat dari salah satu anak korban penggusuran. Ade Irawan (18), anak pertama pasangan Bapak Muhamad dan Ibu Rohana. 


Siang itu dibawah dedaunan pohon mangga, dia mengais beberapa bata yang masih utuh diantara reruntuhan tembok  rumahnya. Bersama kedua teman alumni SMKN-nya yang ikut membantu, bata-bata itu mereka kumpulkan dan meletakkannya pada sebuah tempat. 


Meski dia tak tau, di mana lokasi yang ingin dituju kedua orangtuanya untuk membangun rumah selepas ini.


"Orang tua saya gak tau mau bangun rumah dimana lagi setelah ini, semuanya sudah tertimbun," tutur Irawan memelas. 


Trauma Hearing, diisi dengan permainan ala anak


Dalam ketidak pastian dan nasib yang terkatung-katung. Justru ingatan dan rasa empati pemuda yang mendapat rangking satu dan tiga pada sekolahnya itu masih tertambat pada sahabat sekaligus tetangga rumahnya saat itu. 


Dia merasa kasihan pada Sultan yang rumahnya ikut dirobohkan saat penggusuran berlangsung.


"Justru saya kasihan sama Sultan. Sultan tinggal sendirian di rumah itu. Kedua orang tuanya sudah lama bercerai. Sementara ibunya jadi TKW di Arab Saudi," ungkap Irawan. 


Pemuda yang mengambil jurusan perlistrikan itu lanjut bercerita. Dulu dia bersama Sultan bercita-cita pingin melanjutkan kuliah ke salah satu universitas. 


Namun, akibat kejadian itu dia terpaksa menunda keinginannya dan memilih ikut membantu meringankan beban kedua orangtuanya. 


Beberapa Keluarga di dalam Tenda Pengungsian


"Saya harus tunda dulu keinginan saya. Sebab orang tua lagi susah. Gimana mau biayain kuliah saya, sedangkan rumah saja sudah tidak ada. Sekarang saya harus fokus bantu mereka," tutur Irawan sembari tersenyum menguatkan diri.


Sementara pukul 17.12 Wita, 20 meter arah timur seberang jalan lokasi penggusuran. 


Semangat belajar dan bangkit dari trauma terpantau pada salah satu tenda bantuan Dinas Sosial (Dinsos).


Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Rumah Baca Ikatan Cinta (RBIC), Wasidan S.Pd, bersama kedua putrinya sore itu mendatangi anak-anak korban penggusuran di tenda pengungsian. Dengan menenteng dua buah tas berisi hadiah, Wasidan turun dari motornya. 


Dia kumpulkan 22 orang anak-anak diajaknya bermain dan melakukan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK). Berupa permainan Tutu Kalikumama. Di akhir permainan, peserta yang menang saat TAK  diberinya hadiah. 


Masak di atas tungku sisa bongkahan


Selain itu, ketua LSM RBIC yang menginisiasi Gerakan Gemar Membaca (GGM) pada setiap RT di Desanya di Saleko itu menjelaskan. Tujuan dilakukannya  permainan TAK supaya psikologis anak-anak korban penggusuran sedikit teralihkan. Mengingat mereka merupakan saksis mata atas penggusuran itu.


"Jadi, jika dibiarkan tanpa terapi maka anak-anak ini saat dewasa akan rentang untuk menjadi pemarah, melamun dan penyendiri," terang Wasidan. 


Ditengah keterbatasan sarana dan fasilitas pendukung saat itu, Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang digagasnya harus terus dilakukannya setiap hari. 


"Sejak satu minggu ini saya hanya menggunakan papan menulis dari kertas bekas kalender. Tapi KBM harus terus saya lakukan setiap hari," tutur Ketua LSM GGM.


Sementara itu geliat kehidupan juga terpantau di dapur umum. Sorang ibu sedang mencari dahan kayu kering sisa reruntuhan untuk digunakan sebagai kayu bakar. Dikatakan Korban, setiap hari mereka hanya memasak mie, telur dan sedikit nasi.


Potret Keluarga Mungil, Korban Eksekusi Rumah


"Setiap hari kami hanya menyantap mie, telur dan sedikit nasi," kata Rini Korban Penggusuran.


Masalah lain yang menghinggapi korba saat ini adalah kurangnya tenda pengungsian. Setiap malam mereka terpaksa tidur berdesak-desakan 20 orang pada satu tenda. 


Selain itu, Rini dan beberapa korban mengeluhkan tidak adanya pelayanan kesehatan. Beberapa warga mengeluhkan batuk-batuk hingga sakit gigi. (FM)

SepekanMore