Berita Dompu TerbaruDompu Hari IniGema Hu'uHu'uPT. Sumbawa Timur MiningTambang EmasUnjuk Rasa

Limbah PT. STM Dianggap Ancam Ekosistem Teluk Cempi, Gema Hu'u: Kalian Rusak Alam Kami

Friday, June 24, 2022, June 24, 2022 WAT
Last Updated 2022-06-24T10:54:33Z
(Capture/Ilustrasi) Citra Satelit Spot Mapping
PT. STM di Google Map


Kabar Dompu - Aksi Gerakan Masyarakat Hu'u Bersatu (Gema Hu'u) melalui juru bicaranya menyayangkan sikap dan pola yang diterapkan oleh PT. STM dalam menyikapi setiap tuntutan dan aksi masyarakat lingkar tambang seolah merendahkan dan menyepelekan masyarakat.


"Kami menilai sikap PT. STM dalam menanggapi tuntutan masyarakat sangat berpotensi menghadirkan konflik yang akan mengganggu kondusifitas di wilayah Hu’u," demikian dikatakan Fitrah selaku Jubir Gema Hu'u saat memberikan keterangan pers disela-sela rapat dan koordinasi pasca demontrasi via handphone, Jum'at (24/6/2022).


Lanjutnya, seharusnya keberadaan perusahaan tambang bisa menjadi harapan kemakmuran bagi masyarakat dan bisa terjalin sebuah hubungan yang baik antara keduanya, namun keberadaan tambang selama ini hanya menghadirkan intrik dan gesekan di masyarakat Hu’u.


Menurut Fitra, PT. STM adalah perusahaan amatiran karena mempertahankan pola pendekatan yang sudah kuno dengan masyarakat lingkar tambang. Hal ini terlihat dari cara mereka mencoba membungkam ketika ada satu kelompok masyarakat mencoba berteriak akan sebuah fakta kebenaran yang sedang terjadi saat ini di wilayah tambang, banyak sekali hal tidak benar dan tidak sesuai prosedur yang terjadi di wilayah lingkar tambang.


"Seperti dari penyerapan tenaga kerja, proses seleksi tenaga kerja, proses tender pekerjaan, sampai hal–hal terkecil pun diduga syarat dengan kepentingan, sepertinya enak jadi pejabat di kabupaten Dompu saat ini, Kita sama–sama pahamilah,“ ungkap Fitrah sembari tertawa santai.


Menurut Fitrah, PT. STM juga tidak memperhatikan faktor lingkungan dalam melakukan kegiatan pertambangan. "tidak sedikit masalah yang terjadi dan langsung berdampak pada kehidupan masyarakat lingkar tambang, tercemarnya sumber air bersih saat ini adalah bukti nyata bahwa skema pelaksanan pekerjaan perusahaan tidak mengutamakan safety dan terlihat amatiran," ucapnya

Aksi blokade jalan hingga memboikot karyawan PT. Macmahon yang dilakukan oleh Gema Hu'u
(Foto: Ist) 


Saat ini, masyarakat mengeluhkan tentang hilangnya sumber air bersih di wilayah mereka dan ketika dipertanyakan pada perusahaan dengan santai perusahan berkata akan membuat sumur bor sebagai sumber air pengganti. Padahal menurut Fitrah, mungkin masyarakat tertolong dengan adanya sumur bor, tapi harus kita sama–sama pahami dan saling mencerdaskan bahwa permasalahannya tidaklah sesederhana itu.


"Pencemaran ini berpotensi besar mengancam ekosistem teluk Cempi yang kaya akan biota laut dan merupakan salah satu sumber mata pencarian masyarakat lingkar tambang, ini bukan cuma datang memberikan sumur bor kepada masyarakat lalu sabar dan itu masalah selesai, tidak sesederhana itu ini jauh lebih komplek," urainya.


Fitrah menegaskan, perusahaan tidak usah datang dan bersikap seolah-olah pahlawan kesiangan karena kerusakan alam yang terjadi saat ini karena kegiatan penambangan yang terjadi.


"Kalian merencanakan kegaduhan kemudian muncul sebagai pembawa solusi, berhenti menggiring opini dan pencitraan, karena itu akan sangat melelahkan," tegasnya.


Fitrah selaku juru bicara Gema Hu’u saat di konfirmasi perihal hasil demonstrasi dan pemboikotan PT. Macmahon mengaku sebelumnya telah melakukan rapat koordinasi terkait tuntutan tersebut bersama sejumlah pihak.


"Kami sudah melakukan koordinasi dan rapat evaluasi pada Kamis (23/6/2022) malam, sekitar pukul 19.30 WITA, dengan beberapa elemen masyarakat serta tokoh pergerakan. Dan kami menyepakati beberapa hal, salah satunya bahwa kami akan memboikot dan menyegel beberapa perusahaan yang terlibat dengan PT. STM sampai jajaran direksi merespon kami, kami menganggap dialog yang terjadi kemarin adalah sebuah penghinaan terhadap masyarakat lingkar tambang," tandasnya.


Menurutnya, PT. STM belum sempat membalas dan merespon surat tuntutan dari masyarakat dengan alasan bahwa saat ini perusahaan sedang sibuk, bukankah itu statement dari saudara Didi Susiyanto salah satu perwakilan dari tambang kemarin, "itu kan sangat konyol," imbuh Fitrah.


Gema Hu'u saat berorasi di Depan Pintu masuk PT. STM Kecamatan Hu'u (Foto: Ist)


Lanjut Fitrah lagi, ucapan tersebut sangat melukai perasaan masyarakat lingkar tambang, sehingga setelah melalui evaluasi dan pertimbangan yang sangat serius, pihak Gema Hu’u memutuskan meralat dan membatalkan kesepakatan dalam dialog tersebut.


"Saya pribadi bingung dengan sikap kekanak-kanakan perusahaan ini, kami tau anda (Perusahaan) sedang sibuk merancang strategi bagaimana cara merampok kekayaan alam kami dan tidak terdeteksi," ucap Fitrah lantang.


Dan hari ini, kita kembali disuguhkan dengan sebuah episode baru dari serial komedi masih eksplorasi. Namun hebatnya kali ini membawa nama tuhan, sungguh hebat berbohong dan melibatkan tuhan” ungkapnya sembari tertawa kecil.


Menurut Fitrah, Perusahaan ini sudah berada di wilayah kami selama belasan tahun dan itu bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah perusahaan di bidang pertambangan untuk melakukan sebuah pencarian, pengambilan dan penelitian sampel dan masih terus mencari.


Ia juga mempertanyakan, Apakah benar perusahaan sebesar ini mempekerjakan para ahli dan pakar yang bekerja selambat siput sehingga membutuhkan waktu selama itu menemukan hasilnya? Atau jangan jangan PT. STM yang melakukan kegiatan Eksplorasi ini sebenarnya tidak kompeten dan tidak paham apa yang sedang mereka kerjakan? Atau PT. STM memang tidak memiliki keterbukaan yang berkaitan dengan informasi kepada publik ?


“Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan dan spekulasi, fakta apa sebenarnya yang sedang coba ditutupi oleh PT. STM kepada Masyarakat?,” terangnya


Tak hanya itu kata Fitrah, “Kita ambil contoh Direktur Utama PT. STM dengan lantang mengatakan bahwa Blok Onto memiliki potensi cadangan mineral emas dan tembaga sebesar 2 Milyar Ton, berita tersebut menjadi sebuah kehebohan bahkan trending topik akan adanya penemuan harta Karun terbaru di Indonesia, tapi di satu sisi Direktur Utama PT. STM tidak menjelaskan dampak negatifnya, dan ini adalah sebuah kesengajaan yang bertujuan menjaga kepentingan  dan keberlangsungan investasi dari perusahaan tambang. 


Hal ini tentu akan menjadi sebuah dilema karena seharusnya kita tidak boleh dengan sengaja menutupi bahwa penemuan tersebut faktanya memiliki dampak yang sangat berpotensi merusak lingkungan dan sumber bencana alam yang sangat besar.


"Oke sekarang kita kupas sedikit kenapa keterbukaan informasi tentang letak geografis Blok Onto seolah-olah ada indikasi ingin di tutup oleh perusahaan, pertama letak kecamatan Hu’u adalah di selatan dengan ombak pantai yang terkenal di kalangan peselancar kelas dunia, kemudian wilayah kita merupakan pertemuan dua lempengan tektonik yaitu Eurasia dan Indo-Australia, bisa terbayangkan potensi bencana apa yang terjadi jika penambangan berlangsung?" Tanya Fitra pada awak media yang saat itu ikut meliput.


"Tanah Longsor, Gempa Bumi dan apa lagi? Tsunami bukan hanya kita lihat di Televisi bung, tapi setiap saat mengintai masyarakat lingkar tambang Hu’u," tegas Fitrah.


Fitra lagi-lagi menyayangkan tindakan perusahaan yang mencoba memainkan drama playing Victim dan membalik fakta, seolah selama ini perusahaan mendapat perlakuan buruk dari masyarakat, perusahaan belum mendapatkan keuntungan apapun karena pada kenyataannya perusahaan tidak berpihak apapun pada kepentingan masyarakat hu’u.


"Kalian datang mengambil kekayaan alam kami dan merusak alam kami, berhenti meminta kami untuk memahami keadaan kalian karena seharusnya kalian mengakomodir keinginan kami, kami Cuma meminta apa yang selayaknya kami miliki, kami tidak akan berhenti menyuarakan kebenaran sampai tuntutan kami terpenuhi," ucapnya (BN/Ma)

SepekanMore