Budaya AntriInspirasiKiriman PembacaKisah InspirasiMahasiswaOpiniSosialita

Riri Nagita Oktaviani: Budaya 'Ngantri' dan Cermin Suatu Negara

Wednesday, June 15, 2022, June 15, 2022 WAT
Last Updated 2022-06-15T12:05:07Z
Riri Nigita Oktaviani (Penulis), Mahasiswa Program Pascasarjana  Magister Manajemen Inovasi Universitas Teknologi Sumbawa


Judul Asli: Budayakan Mengantri Untuk Kenyamanan Bersama


Dompu Siar - Teman-teman pernah merasakan mengantri? Bagaimana jika saat mengantri tiba-tiba ada yang menerobos begitu saja, apa yang teman-teman rasakan? 


Pasti merasa sangat tidak nyaman bagaimanapun itu di tempat umum, ingin marah terkadang tidak berani karena perbedaan jenis kelamin, usia, jabatan, bahkan ukuran badan.


Mengantri bukan hal yang tabu lagi! Di manapun itu baik itu di Rumah Sakit, Perbankan, swalayan atau supermarket, dan tempat penyedia barang dan jasa lainnya.


Budaya antri adalah ilmu kedisiplinan yang harus diperhatikan dalam kehidupan bermasyarakat karena itu merupakan cerminan identitas bahkan entitas dari suatu negara yang diantaranya disebutkan bagaimana sikap dan perilaku serta kebiasaan rakyatnya.


Beberapa kasus di lingkungan sekitar dan juga media sosial tentang ketidaksabaran konsumen serta penerobos antrian membuat saya merasa perihatin akan budaya mengantri masyarakat yang masih rendah, bahkan di lingkungan sekitar pun masih saja terjadi hal serupa.


Contoh kasus yang sering ditemukan adalah budaya mengantri dalam pelayanan perbankan khususnya pelayanan customer service, masih banyak masyarakat yang tidak mengerti system nomor antrian.


Ketika merasa terlalu lama menunggu sering kali menerobos antrian dengan menemui petugas customer service dan memaksa untuk dilayani terlebih dahulu dengan berbagai macam alasan. 


Kasus lainnya adalah mengantri saat pengisian bahan bakar di POM bensin, mengantri makanan, mengantri penerimaan bantuan sembako dan masih banyak lagi.


Adapun alasan yang sering saya temui kenapa masyarakat sangat sulit untuk mengantri dalam keadaan darurat di mana ketika merasa sangat membutuhkan sesuatu dengan segera maka harus dipenuhi dengan cepat sehingga mengabaikan antrian dan menerobos antrian orang lain. 


Kebiasaan tidak disiplin, hal ini sepertinya sudah menjadi budaya yang sering disepelekan, karena sudah terbiasa menerobos antrian menganggap bahwa mengantri bukan hal yang penting dan tidak merugikan orang lain. 


Melihat orang lain menerobos antrian membuat seseorang meniru hal tidak disiplin tersebut dan menyebabkan kerumunan yang tidak terkendali, dan yang terakhir adalah pendidikan atau ilmu pengetahuan yang tidak diajarkan sejak kecil.


Kesadaran masyarakat dalam mengantri masih  sangat kurang, mari bercermin dengan negar maju seperti Negara Jepang yang sangat menjunjung kedisiplinan di manapun mereka berada dan tidak mengenal usia.


Negara Jepang adalah salah satu negara paling tertib di dunia yang selalu membudayakan antri dimana saja dan kapan saja.


Bahkan sejak kecil mereka sudah diajarkan tentang mengantri, seperti yang bisa kita lihat diberbagai video di media sosial baik YouTube, Facebook, Twitter, Instagram dan lainnya memperlihatkan begitu tertibnya anak-anak yang sedang menunggu jemputan bus sekolah dengan tertib.


Mereka naik satu persatu sesuai antrian, ada pula beredar video bagaimana tertibnya orang-orang Jepang dalam mengantri menaiki kereta, tidak heran Jepang menjadi salah satu Negara Maju dengan kedisiplinan tertinggi di dunia. 


Dari hal kecil ini kita bisa belajar bagaimana cara menjadi disiplin, salah satunya membudayakan mengantri.


Bisakah Indonesia menjadi disiplin seperti Negara Jepang?  Jawabannya adalah sangat bisa asalkan punya kesadaran diri dan mau mentaati peraturan yang ada, selain itu fasilitas yang memadai juga menunjang terjadinya disiplin mengantri ini.


Dimulai dari kesadaran diri sendiri, kemudian mempraktekkannya dan mengajarkannya kepada anak cucu kita akan menimbulkan kondisi yang tertib dan aman, tidak ada perselisihan dan tentu saja menjadi pribadi yang bermoral tinggi.


Menerobos antrian juga sama halnya mengambil hak orang lain, didalam Islam atau agama lainpun mengambil hak orang lain adalah perbuatan yang dilarang, jika sangat  terburu-buru maka mintalah izin kepada yang mengantri terlebih dahulu.


Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu beliau berkata bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi wasallam bersabda;


"Janganlah seseorang mengusir orang lain dari tempat duduknya, kemudian ia duduk di tempat tersebut, namun hendaknya kalian melonggarkan dan meluaskan majelis kalian." (Mutafakun'Alaih)


Pendidikan moral sudah seharusnya diberikan sejak dini, baik dilingkungan sekolah maupun keluarga agar anak-anak usia dini mengerti akan pentingnya mengantri, selain menjadi disiplin diharapkan anak-anak lebih menghargai hak orang lain, menjadikan mereka generasi penerus bangsa yang bermoral tinggi. 


Anak-anak juga tau bagaimana bersikap dan bagaimana berpendapat, hal ini sangat berpengaruh pada karakter anak-anak sampai ia dewasa. 


Setiap individu busa mempertahankan haknya, dan setiap individu yang melanggar bisa menerima kesalahannya. Hal ini berkaitan dengan kebiasaan atau budaya mengantri, ketika ada yang menerobos antrian maka harus ada yang berani menegurnya, karena bagaimanapun kebiasaan ini tidak boleh dibiarkan menjamur begitu saja dalam kehidupan bermasyarakat karena merugikan banyak pihak.


Adapun manfaat dari budaya mengantri untuk anak-anak adalah melatih kesabaran anak, menghargai hak orang lain, dan mengajarkan anak-anak sebelum mendapatkan apa yang diinginkan anak, harus ada yang di tempuh agar keinginannya tercapai.


Bagi orang dewasa, ada banyak manfaat dari mengantri, antara lain untuk meningkatkan tali silaturahmi. Di mana biasanya (yang saya perhatikan di sekitar lingkungan pekerjaan saya) ketika bertemu teman atau keluarga yang sudah lama tidak bertemu dan berbagai cerita selama menunggu nomor antrian, bertemu dengan orang-orang baru serta memperluas pertemanan, melatih kesabaran dan toleransi antar sesama.


Budaya mengantri ini juga melibatkan pelaku usaha atau pemberi layanan, bagaimana pihak pemberi layanan bisa mengontrol keadaan dan situasi lingkungan pekerjaan, menambah fasilitas, menambah karyawan, dan memaksimalkan waktu dalam pelayanan.


Beberapa faktor tentang pelayanan yang lama, juga menjadi salah satu penyebab terjadinya penerobosan antrian, jika pihak pemberi layanan juga harus memberikan penjelasan dan pengetahuan tentang produk dan tahapan pelayanan.


Sehingga masyarakat yang ingin dilayani mengerti dan sabar dalam menunggu antrian, selain itu fasilitas nasabah atau konsumen dengan fasilitas yang memadai seperti kursi dan tempat yang nyaman atau bila perlu di sediakan air minum. 


Jadi harus dilakukan oleh pihak pemberi layanan adalah meningkatkan keamanan lingkungan sekitar.


Lalu bagaimana jika ada yang menerobos nomor antrian begitu saja? Apa yang harus dilakukan agar tidak terjadi penerobosan antrian dan menghindari keributan, Berikut sedikit tips jika berada dalam kondisi tersebut;


  • Jika berada di tempat tertutup yang mempunyai keamanan atau Security, maka minta tolonglah pada Security dan melaporkan apa yang terjadi,
  • Menegur dengan sopa memperlihatkan orang lain yang juga sedang mengantri,
  • Jika memang sangat mendesak maka mintalah kepada yang menerobos antrian untuk meminta izin kepada orang lain yang juga mengantri untuk di dahulukan urusannya.


Demi kenyamanan semua orang, budayakan Mengantri sangatlah penting dalam kehidupan sosial. Jadi mulai sekarang ayo terapkan budaya antri, jadilah individu yang bermoral tinggi, ciptakan lingkungan yang aman dan tertib, dimulai dengan kebiasaan yang kecil bisa merubah kita menjadi pribadi yang berguna bagi bangsa dan negara.


Terkhusus warga Dompu, kita memang terletak di sebuah kota yang kecil, wilayah yang tidak cukup luas, tetapi mari tunjukkan bahwa kesadaran dan moral kita lebih luas dan sangat tinggi dalam kehidupan bermasyarakat, kita bisa menjadi daerah yang berdisiplin tinggi salah satunya adalah taat mengantri. (IM/Red)

SepekanMore